4 Feb 2015

Analisis Keefektifan Tongkat Narsis Terhadap Hasil Foto Dengan Metode Asalajametri

Dasar :

Panjang tongkat narsis berbanding lurus dengan luasnya bidang tangkap foto namun memperjauh jarak pandang terhadap wajah.

Reaksi :

Tidak ada reaksi, kecuali jika tongkat narsis yang berharga mahal rusak. Yang punya akan bereaksi : kesal, marah, makan indomie di akhir bulan.

Alat dan bahan :

Alat :

- Tongkat narsis seharga 50 ribu ( status : nyicil )
- Hape dengan spesifikasi kamera depan minimal 2 mega piksel ( tidak disarankan menggunakan hape es*a hidayah )

Bahan :

- Objek foto (beberapa  remaja narsis yang sudah nyaris akil balig )
- Baju ( objek foto yang berupa manusia harus dipakaikan baju, agar tidak mengurangi konsentrasi pengamat )
- Software pengolah / filter cepat foto,misal : Retric*, camera 160, cymer* ( untuk antisipasi foto tidak lulus sensor karena wajah objek amoral dan mengenaskan )

Metode :

1) Beli tongsis dengan harga murah ( kalo bisa second ) tapi kualitasnya masih baik.
2) Beli handphone yang ada kamera depan minimal 2 megapiksel ( tidak boleh handphone dummy )
3) Panggil beberapa anak remaja (boleh cewek, cowok, atau yang masih labil)
4) Foto diambil dalam tiga keadaan, yaitu :

- Jumlah objek foto satu orang
- Jumlah objek foto empat orang
- jumlah objek foto sebanyak jumlah penonton konser girlband korea.

5) Dicatat panjang tongsis ( boleh pakai pulpen pilot, atau pulpen standard. Tapi jangan menulis pakai standard pilot )
6) Objek remaja diperbolehkan pulang ke rumah masing – masing (sebelumnya dibagikan buku eyd gratis bagi para penyandang buta tulis benar / alay )
7) Tongsis dan handphone dijual lagi. (opsional)

Pengamatan :

- Posisi foto pertama
jumlah objek : satu (kalau gemuk dihitung dua)
Panjang tongsis : 50,95 cm (diukur dengan alat “asalnebakmeter”)
Penampakan objek : Jelas

- Posisi foto kedua
jumlah objek : empat orang
Panjang tongsis : 70,56 cm
Penampakan objek : tiga objek jelas, satu tidak jelas.

- Posisi foto ketiga
jumlah objek : sebanyak jumlah penonton konser girlband korea
panjang tongsis : 100 cm ( maksimum )
Penampakan objek : beberapa jelas, sisanya tidak terdefinisi ( muka dan kaki sama )

*Pengamatan tidak dilampirkan foto semi keselamatan dan kesehatan pembaca.


Pembahasan :

Remaja sekarang lebih narsis dari remaja dulu. Remaja sekarang terkenal menyukai kegiatan memfoto diri sendiri atau yang lebih sering disebut selfie. Kebanyakan remaja langsung bisa melihat hasil foto di handphonenya. Bila tidak puas, mereka hapus. Mereka foto lagi. Kalau mereka puas, mereka tetap foto lagi (mencari angle yang lebih ekstrem, contoh : dari selipan ketek). Beda dengan remaja di tahun 90an, jika memfoto diri sendiri, hasilnya baru bisa dilihat beberapa hari melalui proses pencucian foto. Kasihan kalau sedang musim hujan, foto yang habis dicuci tidak kering saat dijemur karena tidak ada matahari (sumber : ngasal aja sih.)
Dengan memanfaatkan hobi baru remaja, beberapa pengusaha kreatif menciptakan alat yang berbau narsis. Seperti :

- Tongsis : Tongkat Narsis
- Tomsis : Tombol Narsis
- Sosis : Olahan daging sapi. Gak bisa dibuat narsis.

Dalam penelitian ini, saya mengambil salah satu alat yaitu “Tongsis”. Tongsis merupakan kependekan dari Tongkat Narsis. Sebenarnya bukan tongkatnya yang narsis. Karena sama – sama kita ketahui, tongkat adalah benda mati yang tidak bisa mengacungkan jari telunjuk ke depan bibirnya (tongkat pun tidak punya jari). Yang narsis adalah si pemakai tongkatnya.
Tongsis dapat dipendekan dan dipanjangkan sesuai keperluan. Jika ingin area pengambilan foto kecil, maka tongsis dipanjangkan sedikit saja, Jika ingin area pengambilan foto lebih luas, tongsis agak lebih dipanjangkan. Jika ingin menggebuk orang pake tongsis tapi dia jauh, juga perlu dipanjangkan.
Karena teori itu, dilakukan lah analisis keefektifan terhadap panjang tongsis dan hasil foto. Guna mempermudah para tongsiser ( pemakai tongsis, dikutip dari kamus “ngasalaja” ) menentukan angle yang bagus. Tentunya penelitian ini mengabaikan faktor wajah. Karena agak susah untuk mengubah faktor itu.
Dari hasil pengamatan, terlihat bahwa semakin panjang tongsis, semakin luas area yang didapat, namun semakin berkurang kualitas foto ( penampakan objek ).

Kesimpulan :

Dapat disimpulkan bahwa :

- Jika ingin mengambil foto sendiri, atau berdua tongsis tidak usah terlalu panjang. Namun apabila faktor wajah ingin sedikit di blur-kan, panjangkan tongsis sampai 50 kilo meter. Bukan hanya ngeblur, wajah anda hanya mitos (tidak terlihat).

- Jika ingin foto beramai – ramai, panjangkan tongsis sampai maksimal. Resikonya adalah wajah tidak akan terlihat berbeda, semuanya ngeblur. Solusinya adalah mengedit foto yang sudah diambil dengan software “paint”, lalu memberi teks “ini saya..” diatas kepala.

Contoh : Sumber : Gugel with edit

Contoh : Sumber : Gugel with edit

 Daftar pustaka : 

Macotapiloyo, Kusno (1986). Teknik Asalajametri Konvensional. Bekasi: Percetakan Sayang Ibu

Ngadiman, Edward ( 2005). Pengukuran Asalnebakmeter. Jakarta: Bulux Medika Komputeris

12 komentar:

  1. Sungguh, ini sangat memelintir dan menjadi postingan ngawur serta nyeleneh. Hahahahaha, andaikan ini dibikin tugas kuliah beneran, gimana, ya. Hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gue sarankan jangan dijadikan referensi skripsi coy. Haha

      Hapus
  2. makasih klinik tong peng.. sekarang saya terinspirasi untuk buat karya tulis :v
    btw itu alat2 dijual lagi.. anak kos banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama - sama. Jangan dijadikan referensi ya, nanti cepat lulus (?) iya, saya orang padang.

      Hapus
  3. Huehehehe leh ugaaaa. Bisa lah dijadiin bahan skripsi. Eh. Btw skrg tongsis udah mulai tersingkirkan sama Go Pro mz, meskipun harganya masih ngeselin sih...

    Oh iya, fyi aja, kl mau gunain tanda kurung atau titik dua, setelah hurufnya ga usah pake spasi bang, yang bener kayak "gini:" bukan kayak "gini : ". Hehe just info aja sih. Keep writing!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan dijadikan referensi coy, biar kuliahnya cepet lulus. Tapi tongsis masih di hati #eaa Oke terimakasih koreksinya :)

      Hapus
  4. Wah. Bisa aja nih bikin yang beginian. Heboh sih. Tapi lucu juga teorinya. Pembahasannya sih bener, remaja sekarang emang narsis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya.. sering2 mampir biar makin tambah pinter (?)

      Hapus
  5. Ini bakal tak jadiin refrensi kalo neliti yang kayak gini -__-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh. Jangan lupa cantumin daftar pustaka blog gue ya haha

      Hapus
  6. Kesimpulannya bikin ngakak, nulis di paint "ini saya" itu absurb banget.
    Tapi baiklah berkat tulisanmu aku jadi tau teori-teori anehnya hahaha
    sayang gak punya tongsis jd ga bisa mempraktekkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beli dong, cuma 30 rb kok di online shop (bukan promosi ya..) hehe

      Hapus

Garing kan? Yuk, kata - katain si penjual krispi biar dia males nulis garing lagi. Silahkan isi di kolom komentar.

Penikmat Crispy

Pemakan Crispy

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...