24 Mar 2018

Bukan Kisah Putih Abu #3 : Masa (sih) Orientasi Siswa? Bagian I

Perkenalan di kelas sudah selesai. Semua penghuni kelas sudah memperkenalkan dirinya masing-masing. Ternyata bukan hanya dari daerah sekitar Bogor saja yang sekolah disini. Ada juga yang dari daerah, bahkan luar pulau jawa.

Setelah itu, Kak Ridwan yang ada di depan mulai beralih ke pertanyaan lain. Gue tahu mungkin tujuan dia masuk ke kelas hanyalah untuk mengisi waktu kosong saja hari ini. Sebelum pelajaran dimulai, mungkin besok.

“Kemarin gimana MOS nya? Seru?” Tanya Kak Ridwan.

Jawaban seisi kelas macam-macam.

“Seru kak.” Kata seorang teman kelas.

“Menegangkan.” Kata teman kelas yang lain.

“Gak seru. Gak ada dangdutnya.” Kata teman kelas lain yang mungkin dangdut holic.
Gue pun ikut menjawab walau dalam hati. Kembali mengingat seminggu lalu. Awal ketika Masa Orientasi Siswa dimulai. Masa pertama tidur sendiri di kosan. Masa dimana rambut gue yang jarang dicukur habis, tiba-tiba dihabiskan begitu saja oleh tukang cukur (udah gitu, tukang cukurnya gue bayar lagi). 

---------------

Sambutan singkat dari pembina acara MOS sudah selesai. Beliau berjalan keluar ruangan gedung serbaguna yang saat itu masih riuh dengan tepuk tangan. Sekarang acara ini di arahkan kembali oleh panitia yang memakai jaket almamater bermotif kotak-kotak berwarna coklat.

“SEMUANYA, CEPAT BENTUK BARISAN.” Kata salah satu panitia dengan tegasnya.

Semua prasa prasi (sebutan untuk orang yang lagi di MOS) langsung berdiri. Membentuk barisan tanpa banyak tanya lagi. Gak ada tuh yang nanya.

“Kak, ini barisannya mau bentuk lurus, atau berjajar? Atau baris seperti lagi mau senam poco-poco?”

Gak ada. Yang nanya begitu mungkin kepalanya di botak sampai gak numbuh lagi.

Semuanya langsung berdiri berusaha membentuk barisan. Suara gemuruh bentakan random mulai dilontarkan oleh panitia. Gue gak liat mukanya satu-satu. Yang pasti nada teriakannya sama. Gue rasa tadi malam mereka latihan untuk ini.

“Fokus Mas! Ikutin temen yang depannya. Lurusin!!” Kata kakak panitia kepada gue.

Gue rada bingung kenapa dipanggil Mas, padahal kan dia lebih tua.

“Ini kenapa kakaknya tiba-tiba jadi pada galak?” tanya gue ke temen sebelah gue.

“Ya mungkin acara utamanya udah dimulai.” Kata dia singkat sambil berekspresi takut-cemas-dan khawatir gitu.

Gue pikir juga begitu. Ini adalah hari pertama gue mengikuti program MOS. Sedari pagi tadi acaranya adalah sambutan-sambutan dan perkenalan oleh kakak panitia yang ramah dan baik hati. Gak ada bentak-bentakan. Baik banget.

Ada satu kakak panitia yang sempet bercakap-cakap dengan gue. Cewek, rambutnya panjang, kulit putih, berwajah oriental, senyumnya manis sekali seperti gula pasir. Gue ditanya waktu lagi menunggu acara pembukaan di GSG dimulai. Gue menyebutnya Kakak Jepang.

“Dari sekolah mana?” Katanya

“Dari Jakarta kak.”

“Oh, ngekos apa engga?”

“Niatnya begitu kak.”

“Oke, semangat ya MOS nya!” kata kakak itu sambil tersenyum.

Gue juga jadi ikut tersenyum dan semangat buat MOS. Tapi itu semua, sebelum acara utama dimulai.

Tiga puluh menit berlalu sampai prasa prasi sudah mulai berhenti bergerak. Barisan sudah tidak bergeser lagi. Suara teriakan panitia sudah mulai berkurang. Dan gue masih belum ngerti ini barisan buat apa.

“Yang sebelah kanan gue ini, suara BASS ya. Yang ini ALTO, yang ini SOPRAN, dan yang paling kiri ini TENOR!!” kata kakak panitia sambil menunjuk ke arah kelompok barisan.

Gue berpikir dia ngomong apa barusan? Bahasa Italia? Kita bakal belajar bahasa Italia?

“Sekarang kalian semua siap siap menuju RUANGAN UTAMA ya!!”

Barisan mulai bergerak karena perintah panitia itu. Entah akan dibawa kemana, gue ikut aja kemana barisan kepala botak ini menuju.

“GAWAT..” kata seorang di sebelah gue.

Orangnya gemuk, pakai kacamata bulat model harry potter, maka sempurnalah kebulatan kepala, badan dan kacamatanya.

“Gawat kenapa?” Tanya gue pengen tahu. Siapa tahu dia bilang gawat karena dia kebelet buang air besar. Kalau begitu, gue bisa langsung bilang ke panitia sebelum dia buang muatan di sebelah gue.

“KITA BAKAL KE RUANG PENYIKSAAN..” kata dia dengan heboh.

Gue diem.

“Bener kata kakak gue, di MOS ini gue bakal kehilangan nyawa gue kayaknya.”

Oke ini mulai dramatis.

Gue gak melanjutkan percakapan gue dengan orang gempal yang ada di sebelah gue barusan. Gue gak mau tersugesti bahwa acara MOS ini akan berakhir menyeramkan atau bahkan bikin gue mati. Ah dasar dia aja yang lebay. Gue masih percaya sebenernya kakak disini baik baik dan mereka cuma tegas. 

Lalu sampailah barisan Prasa-Prasi di sebuah ruangan yang luas. Dua ruangan kelas yang dibuka sekatnya, sehingga menjadi satu. Luas sekali sampai gue kira, kita bisa main futsal disini. Tapi mungkin bakalan bingung, karena bentuk bola dan bentuk kepala laki-laki disini agak serupa.

Semua Prasa-Prasi menuju tempat duduknya sesuai arahan kakak panitia bidang PJH (Penanggung Jawab Harian). Kakak panitia ini lebih sering memasang senyum dan menggunakan nada rendah saat bicara. Tidak seperti kakak panitia yang di GSG tadi, yang mungkin adalah mantan rocker.

“SEMUA PJH KELUAR!!” 

Kata seorang panitia cewek yang tiba tiba datang dari luar. Wajahnya penuh semangat seperti orator-orator demo. Bedanya dia gak bawa spanduk aja.

Dengan nada tinggi khas perempuan yang teriak marah, mengusir semua panitia PJH keluar ruangan. Digantikan dengan dia dan diikuti oleh tiga orang laki-laki yang masuk setelah kakak-perempuan-yang-tiba-tiba-masuk-ruangan-terus-teriak ini.

Totalnya jadi empat orang yang selanjutnya mereka menyebut dirinya adalah Panitia Acara. Mereka yang selanjutnya dengan “HANGAT” mendampingi Prasa-Prasi dalam acara MOS ini.

“Mati gue, mati gue. Gue pengen pulang sekarang.” Kata seorang sebelah gue. Gue gak asing sama suaranya, dan pas gue tengok ke sebelah kiri gue. Benarlah, dia cowok gempal yang tadi heboh di ruang GSG. Okesip, gue sama dia satu kelompok dan sebelahan. Kita lihat sampai kapan gue akan kuat menghadapai sugesti negatif dia.

“Perkenalkan nama gue Fauzi Permana” kata salah seorang panitia acara yang membawa map di depan ruangan. Suasana hening tapi kakak cewek yang tadi tiba tiba masuk itu bilang.

“WOY MAS, DENGERIN COWO GUE LAGI NGOMONG DI DEPAN!!”

Cowo? Oh mereka pacaran?

“CE-O GUE BAKAL NGASIH INFORMASI NIH. DENGERIN SEMUA!!” 

Oh Ce-O, koordinator maksudnya. Gue kira pacaran. Seru juga kalau ada adegan romeo juliet di ruangan ini.

Tapi gue bingung kenapa kakak itu berteriak nyuruh orang diem, padahal kita semua udah diem? Apa mungkin kakak ini bisa mendengar semut berbicara?

“Kita langsung ke intinya ya, jadi selama empat hari ke depan, kalian akan mengikuti program MOS yang termasuk perkenalan sekolah dan pelatihan paduan suara untuk hari puncak nantinya. Dan untuk di ruangan ini kami lah yang akan memandu kalian semua.”

Percaya atau tidak, sugesti negatif si gempal mulai berpengaruh di gue.

Setelah itu panitia mengumumkan tugas buat besok. Aneh-aneh pake bahasa kimia.Waktu sudah malam, tapi gue harus mesti nyempetin nyari tugas-tugas yang harus di bawa besok. Dibantu Ibu dan Bapak juga sih.

Besoknya kita di evaluasi di GSG, barang yang kita bawa disuruh diangkat dengan satu tangan dan kepala harus menunduk. Ini adalah posisi dengan rasa pegal yang nyata. Satu barang, masih oke. Dua barang, sudah mulai gemetar tangan gue. Barang ketiga, gue gak kuat dan akhirnya sebentar menurunkan tangan.

“WOY MAS PEGEL??” kata seorang panitia perempuan dari arah belakang gue. Gue langsung menaikan kembali posisi tangan gue yang tadinya turun.

Gue menebak-nebak siapa yang membentak gue dari belakang ini. Ah, pasti ini kakak panitia acara yang ada di kelas. Dari suaranya yang sangat nyaring, dan menepuk-nepuk gendang telinga gue dengan anarkis. Pasti ini dia.

Kemudian dia menghampiri gue dari arah depan lalu berjongkok dan berteriak kembali.

“PEGEL MAS?”

“Sedikit kak.” Jawab gue terbata sambil melirik ke arah wajah kakak cewek yang membentak gue barusan.

Nafas gue seperti berhenti sebentar. Lima detik kayaknya. Perlahan-lahan gue pandangi kakak yang ada di depan gue. Hidungnya, matanya. Sampai ke rambutnya. Sama persis. Gue pastikan gue gak salah lihat. Yang membentak gue adalah.

KAKAK JEPANG!!

Dalam hati gue bergumam. “Kakak, gak inget, ini saya yang kemarin ngobrol sama kakak. Kak, kok jadi galak sih teriak-teriak kayak gojila. Kak. Kak. Notice me!! Notice me Senpai!!”

“PEGEL MAS? MAU DI PIJIT?” katanya, yang sekarang ditambah kata-kata pijit.

Sungguh pertanyaan yang sangat membingungkan. Gue bingung harus jawab apa, tapi tangan kanan gue emang pegel banget. Belum sempet gue jawab “Iya kak, boleh, tapi jangan pake balsem ya.”. Kakak Jepang itu langsung berteriak seperti gojila lagi.

“Woy semua, ada yang pegel nih, minta dipijitin katanya!!”

Yaampun dia memanggil kawanan panitia yang lain.

Kemudian datang empat orang laki-laki yang mungkin mereka yang akan memijit gue. Mereka mulai memegang pundak, ada yang memegang tangan gue. Langsung memijit-mijit seadanya.

“ENAK DIPIJITIN GINI?” kata seorang kakak panitia cowok.

Gue langsung down dan gak bisa jawab apa-apa. Gue merasa apakah ini perlu untuk sebuah masa orientasi? Apa yang diperkenalkan pada bagian ini? Cara memijit yang benar?

Hampir dua hari sudah MOS berlangsung. Gue masih belum paham makna masa orientasi sebenarnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Garing kan? Yuk, kata - katain si penjual krispi biar dia males nulis garing lagi. Silahkan isi di kolom komentar.

Penikmat Crispy

Pemakan Crispy

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...