25 Mar 2018

Bukan Kisah Putih Abu #4 : Masa (sih) Orientasi Siswa? Bagian II

Sudah jadi hal yang wajar di Indonesia ketika Masa Orientasi Siswa akan ada tugas membawa barang. Tugas ini akan disebutkan sebelum pulang pada hari sebelumnya. Dan penyebutan barang itu tidak langsung menyebutkan barangnya, tetapi dibuat teka-teki sehingga peserta MOS diharapkan memecahkan teka-tekinya. Gue jadi bingung, ini mau masuk sekolah apa seleksi jadi detektip.

Pun pada sekolah kimia ini. Sebelum pulang hari kedua, gue dan prasa prasi lainnya diberikan list tugas membawa barang-barang. Kira-kira seperti ini listnya :


Oryza Sativa matang
Barium Sulfat matang anhidrat
Buah berasam sitrat
Susu Kapuk Baik Asli
Teh bersakarida
Selenium, Nitrogen, Dissolve Oksigen, Kalium dan pasangannya.
Gulungan kertas lembut dan suci.

Mendengar sambil menuliskan list itu yang didiktekan oleh panitia membuat kepala gue ngebul. Dari semua list itu, yang gue tahu cuma susu kapuk, pasti ini susu bantal. Tapi yang lain? Kenapa pada pakai istilah alien begini? Hari pertama kemarin gak seperti ini, lebih jelas dan tanpa teka-teki.
“Silahkan diskusikan dengan teman sekelompok, apa saja barang yang akan dibawa besok.” Kata ketua panitia acara.

Kemudian gue dan kelompok gue mulai berkumpul. Sambil masing-masing berpikir apa saja yang akan dibawa besok. Gue pun ikutan (pura-pura mikir). 

“Oryza Sativa kan padi, berarti mungkin yang ini maksudnya kita bawa nasi” kata Sari salah seorang anggota kelompok. Diikuti anggukan gue dan kelompok lainnya. Kami iya-iya saja, karena dipikiran hanyalah kapan bisa pulang.

“Kalau asam sitrat itu kalau gak salah jeruk deh.” Kata Sari melanjutkan. Kami mengangguk lagi sambil mencatat jawaban teka-teki yang dipecahkan olehnya.

“Teh bersakarida itu maksudnya teh manis, karena sakarida kalau gak salah itu gula.” Kembali lagi Sari menebak teka-teki itu.

“Oke sip.” Gue mengucapkan satu kata tak berguna karena gak mau kelihatan diem aja. Yang lain cuma mengangguk. Jadi gue masih mending lah bilang oke.

“Nah sisanya kira-kira apa ya? Daritadi gue mulu nih yang nebak, kalau salah ntar gue yang disalahin.” Sari berkata sambil melihat wajah kita satu-satu yang sudah menampakan ekspresi lelah dan kangen kasur.

“Gulungan kertas suci itu apa ya?” kata Doni salah satu anggota kelompok. Bukannya memberi jawaban, iya malah bertanya. Bagus, daripada diem saja ya.

“Sejadah?” kata gue. Teman sekelompok langsung melirik gue dengan tatapan “hah?”

“Eh bukan ya?” gue langsung menarik kata gue kembali. Setelah mengingat-ingat gue gak pernah nemuin sejadah dari bahan kertas. Gue terkecoh dengan kata lembut. Karena sejadah baru gue di kosan lembut banget (alasan).

“Mungkin tisu ya?” kata Doni. 

“Kan tisu lembut tuh, terus bergulung. Terus suci.” Doni menambahkan.

“Tahu darimana dia suci? Jangan nilai orang dari luarnya aja. Hehe bercanda.” Kata gue mencoba mencairkan suasana yang benar-benar padat sore menjelang magrib itu.

“Selenium, Nitrogen, Dissolve Oksigen, Kalium dan pasangannya ini sepertinya singkatan deh. Ada yang bawa tabel periodik?” tanya Doni. Lalu kita sekelompok langsung memeriksa tas masing-masing. Kalau gue sih gak bawa. Tapi ikut periksa tas aja biar ada usaha dikit.

“Ada nih.” Sari bawa tabel periodik. Sudah gue kira kalau Sari ini memang niat dan cocok masuk sekolah ini. Kelihatannya dia pintar, suka kimia, dan pasti setiap hari sebelum tidur dia melakukan eksperimen rahasia di dalam kamarnya yang di dalamnya ada alat-alat laboratorium canggih, mencoba untuk menciptakan mahluk mutan.

Oke gue capek, sampai menghayal gini.

“Selenium itu lambangnya Se. Coba catet.” kata Sari. Doni langsung mencatat, kebetulan dia sudah memegang pulpen dan secarik kertas kecil di tangannya.

“Nitrogen itu lambangnya N. Kalau Dissolve Oksigen itu disingkat DO, dan Kalium itu lambangnya K.” Kata Sari sambil mengurutkan nama unsur-unsur dan mencari lambangnya di tabel periodik.

“SENDOK” kata si gempal yang kemudian gue tahu namanya adalah Boris. Dia sedari tadi tidak mengeluarkan suara selain suara nafasnya yang kencang, dan mungkin bisa buat ngipasin sate.
“Betul, dan pasangannya?” tanya Doni.

“SENDOK dan GARPU !!” kita berlima kompak menyebutkan jawabannya. Ah seperti dalam film-film detektif. Kita berusaha bersama berpikir keras memecahkan teka-teki yang ada. Dengan tujuan besar yaitu----biar gak dihukum besok. Sungguh tujuan yang cemen.

Sekarang tinggal satu yang belum ditebak. Yaitu “Barium Sulfat matang.”. Gue sama sekali gak tahu itu apa. Temen kelompok gak tahu, bahkan sari juga tidak. 

Teka-teki tentang Barium Sulfat matang belum juga terpecahkan sampai ketua panitia acara mengumumkan waktu diskusi sudah habis. Kami semua kembali ke tempat duduk dan bersiap pulang. 

Sesampainya di kosan, gue berbenah diri dan mandi. Jarang-jarang gue mau mandi karena udara Bogor yang dingin dan rasa malas yang menyelimuti sehabis di MOS seharian.

Selepas Isya, gue dan teman sekosan gue, Ali dan Fatur. Keluar kosan untuk mencari barang tugas untuk besok. Udara dingin Bogor yang habis hujan tidak menyurutkan semangat kita untuk menyiapkan tugas. Salah satu motivasinya adalah agar tidak dihukum panitia besok.

Kami bertiga menyusuri jalan-jalan di Ciheuleut, Bogor. Menghampiri minimarket dan membeli beras, teh manis, jeruk, susu bantal, dan tisu. Sendok dan garpu sudah ada di kosan. Berarti sekarang semua sudah lengkap kecuali teka-teki terakhir yang belum ketebak yaitu “Barium Sulfat matang”.
 
“Eh lu tahu gak sih Barium Sulfat matang apaan?” Gue nanya ke Ali.

“Gak tahu. Ntar mau nelpon kakak gue dulu.”

“Kakak lu alumni?”

“Iya.”

Enak sekali Ali punya kakak seorang alumni. Pastinya dia sudah mendapatkan “kisi-kisi” MOS ini akan seperti apa akhirnya. Sedangkan gue, gue bagai kecebong di selokan yang mengikuti arus air saja. Entah mau kemana, gue ikut aja.

Kok jadi edgy. Mungkin gue lelah.

“Lai, gue sama Ali mau ke tukang jahit dulu ya, mau ngambil celana yang abis di vermak.” Kata Fatur. Kemudian dia dan Ali ke arah penjahit, sedangkan gue menuju arah kosan.

Sebelum menuju kosan, gue berjalan ke arah warteg yang ada di sebelah gang kosan. Di Warteg ini gue mau membeli makan malam. Perut sudah bermain orkestra sedari tadi.

Kemudian gue masuk ke dalam warteg. Di dalamnya sudah ada tiga orang yang sedang makan. Gue pun memesan makanan dan menunggu di siapkan makanannya oleh ibu warteg.

Lalu ada orang lain yang datang masuk ke dalam warteg.
“Bu, ada telur asin?” kata seseorang itu setelah berada di dalam warteg.

Gue refleks melihat ke arahnya, karena gue jarang nemuin ada perempuan di warteg (lah itu ibu warteg kan juga perempuan.)

“Eh, si kacamata yang waktu itu.” Kata perempuan itu yang ternyata melihat gue juga.

Ternyata itu Kak Yuki si kakak Jepang. Gue baru tahu ternyata dia anak kosan. Dan kenapa dia beli telur asin? Apa dia pecandu telur asin? Gue belum tahu lebih lanjut.

Yang buat gue bingung juga bukan cuma itu. Dia memanggil gue si kacamata dan berarti dia masih inget ngobrol sama gue waktu itu. Pertanyaannya adalah, kenapa dia bentak bentak gue tadi pagi? Apa yang tadi pagi itu kembaran dia? Gue gak tahu yang jelas sekarang gue cuma bisa senyum seadanya. Karena ini canggung sekali.

“Gimana? Masih pegel?” katanya sambil sedikit tertawa.

“Engga kak” jawab gue singkat sambil sesekali mengecek hidung gue. Mimisan apa enggak. Karena gue gak pernah membayangkan kejadian ini.

Gue duduk bersebelahan (walau agak sedikit jauh) dengan Kak Yuki di warteg. Lalu mengobrol kembali seperti hari pertama MOS seperti tadi pagi dia tidak membentak-bentak gue. Benar-benar tidak terduga.

“Yang sabar aja kalau MOS, jangan sedih, jangan menyerah.” Katanya kembali memberikan petuah seperti kemarin waktu hari pertama.

“Iya kak, terimakasih. Semangat kok.” Gue senyum.

Ibu warteg telah selesai menyiapkan nasi bungkus gue. Begitu juga telur asin Kak Yuki. Gue meraih nasi bungkus yang sudah dimasukan kedalam plastik hitam itu. Sedangkan Kak Yuki sudah memegang plastik hitam yang berisi telur asin lebih dahulu.

Sambil keluar dari warteg, Kak Yuki kembali bertanya.

“Udah dapet semua barangnya buat besok? Jangan sampe di hukum lagi kayak tadi.” Kata Kak Yuki.

“Tinggal satu kak, Barium Sulfat matang.” Kata gue sambil pelan-pelan menambahkan kalimat tanya.

“Apa ya..?” Gue takut Kak Yuki berubah menjadi dia yang satu lagi dan langsung membentak gue di depan warteg. Ini adalah tempat yang sangat tidak pas untuk di bentak.

“Oh itu, Barium Sulfat kan lambang senyawanya BaSO4. Jadi?”

Gue berpikir sebentar.
“Jadi maksudnya 4 buah baso yang matang kak?”

Kak Yuki cuma mengangguk sambil tersenyum kecil.

“Makasih kak!” kata gue.

Kak Yuki pergi ke arah gang lain yang mungkin adalah tempat kosannya. Gue langsung berlari kembali ke arah perempatan Ciheuleut sambil mencari tukang baso. 

Di daerah ini ada beberapa tukang baso. Tapi selama perjalanan gue menuju perempatan Ciheuleut sudah gue temui dua tukang baso yang tutup. Perjalanan gue teruskan sampai perempatan.

Ah, akhirnya ada tukang baso yang buka di dekat perempatan. Namanya Goyang Lidah. Entah kenapa namanya goyang lidah. Mungkin setelah makan baso itu lidah akan bergoyang. Tapi bahaya juga kalau lagi makan lidah tiba-tiba goyang sendiri. Bisa-bisa kegigit.

Gue berlari ke arah kedai bakso itu dan bertanya ke abangnya. Tapi belum sempurna gue mengeluarkan suara.

“Abis mas.” Katanya singkat padat dan kampret.
 
“Abis bang? Baru jam delapan udah abis?”

“Disini mah emang kalau jam segini udah abis. Apalagi tadi banyak anak-anak botak kayak situ beli baso tapi cuma empat. Gak tahu buat apaan, tugas ya?”

Gue menghela nafas sambil berjalan pulang ke arah kosan. Sambil berbisik dalam hati. Yah, besok kena hukuman lagi deh.

Sesampainya di kosan. 

“Tur, Li. Lu udah pada tahu apa itu barium sulfat matang?”

“Udah tahu, barusan gue udah nelpon kakak gue. katanya barium sulfat matang itu empat baso matang ” Kata Ali.

“Betul, udah dapet?” tanya gue, berharap mereka belum dapet juga.

“Keabisan.” Kata mereka kompak.

Okesip gue jadi ada temen dihukum besok bareng.

“Tapi tenang, kata Pak Aep dia punya stok baso mentah di kulkas. Gue udah minta dua belas buah kok buat kita.” Kata Fatur sambil membereskan barangnya yang akan dia bawa besok. Pak Aep adalah bapak kosan kita yang orangnya ramah dan sering menghadirkan lawakan garing. Cukup baik untuk menjadi referensi lawak (bagi gue).

Mendengar itu gue langsung auto-bahagia. Akhirnya gue gak bakal dihukum besok. Malam ini gue bisa tidur nyenyak.

----------

Pagi hari. Hari ketiga MOS. Prasa-prasi sudah ada di GSG untuk dievaluasi tugas barang bawaannya. Dari kejauhan gue juga melihat Kak Yuki yang berkumpul dengan panitia kelog lainnya.

Satu persatu barang disebutkan, dan satu persatu pula barang itu diangkat oleh gue dan prasa-prasi lainnya dengan tangan kanan sambil menunduk. Sampailah pada barang “Barium Sulfat matang Anhidrat.”. Gue sudah bersiap mengangkat empat butir baso matang yang dikemas rapih dalam plastik dan diberi sedikit kuah. 

Terimakasih Pak Aep.

“BARIUM SULFAT MATANG ANHIDRAT” kata kakak panitia.

Semuanya mengangkat barang itu keatas.

Tiba-tiba ada yang nyamperin gue. Salah satu kakak panitia laki-laki bagian kelog.

“APA NIH? KOK DI REBUS?” kata dia sambil mengambil plastik bening berisi empat baso dan kuah dari tangan gue.

“kan matang kak.” Kata gue pelan.

“ANHIDRAT WOY!! DI GORENG!!” teriaknya nyaring sekali di samping kuping kanan gue.

Gue kaget karena gak kepikiran kalau anhidrat maksudnya itu airnya dihilangkan dengan cara digoreng. Ya mana gue tahu. Gue kan belum jadi anak kimia. 

Kebahagiaan gue pagi itu kembali hilang karena harus ke depan barisan untuk diberi hukuman. Gue melihat ke arah lain, Ali dan Fathur juga maju ke depan karena salah barang bawaan juga. 

Di sudut kanan GSG diantara kumpulan panitia yang sedang berdiri, gue melihat Kak Yuki tertawa kecil dari kejauhan. Mungkin karena melihat gue kembali di hukum (geer).

--------

Sepulang MOS hari itu. Gue, Ali, dan Fathur kembali ke kosan dengan lemas. Dan ketika kami ingin membuka kunci pintu kamar kosan tiba-tiba ada suara Pak Aep dari arah belakang.

“Gimana tadi hukumannya?” Sambil tertawa lepas sekali. Sampai gue coba tangkep gak bisa-bisa.

Kampret, Pak Aep sudah tahu harusnya itu baso goreng. Dia merebus basonya, cuma buat becanda aja. Tepatnya, becanda sampai kita dihukum suruh joged dangdut di depan peserta MOS lainnya.

Terimakasih Pak Aep.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Garing kan? Yuk, kata - katain si penjual krispi biar dia males nulis garing lagi. Silahkan isi di kolom komentar.

Penikmat Crispy

Pemakan Crispy

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...