26 Mar 2018

Bukan Kisah Putih Abu #5 : Sebuah Konflik Suara

Selain diberi tugas aneh-aneh dan dibentak-bentak. Pada MOS ini prasa-prasi juga diajari cara bernyanyi. Tepatnya bernyanyi lagu “hymne analis”. Sebuah lagu yang legendaris yang menggambarkan tentang sebuah janji profesi analis kimia terhadap negri ini. Liriknya cukup romantis. Pertama kali denger gue terharu dan hampir menumpahkan air mata. Cuma akhirnya gak gue tumpahin karena males ngelapnya.

Kata salah satu kakak panitia kesenian. Lagu ini adalah lagu yang akan kita nyanyikan waktu pelantikan pertama kali menjadi siswa sekolah kimia. Lagu ini pula yang akan menghantarkan kita menjadi analis kimia jika kita wisuda nanti. Mantap betul. Tapi apa gue bisa sampe wisuda?

Semakin mendekati hari kelima, latihan paduan suara semakin ditambah jamnya. Hal ini dikarenakan hari kelima adalah hari pelantikan siswa baru. Semua prasa-prasi harus sudah dapat bernyanyi dengan baik. Membuat pendengarnya kagum dan merinding mendengar pecah suara yang begitu memukau. Bukan merinding tiba-tiba melihat penampakan diatas panggung (bukan gue ya.)

Pembagian suara dilakukan di waktu hari pertama. Inget kan? Yang waktu itu tiba-tiba disuruh baris. Kirain ada apaan. 

Gue kebagian suara Bass. Suara ini memiliki karakteristik seperti Bass (yaiyalah). Maksudnya ya termasuk jenis suara yang laki-laki banget. Gue bersyukur berarti akil baligh telah mengubah suara gue dengan sukses menjadi suara lelaki. Karena dulu pas SD suara gue seperti tante-tante cepirit.

Seperti yang gue bilang, suara bass ini adalah suara yang laki banget. Jadi isi ruangan latihan suara bass kebanyakan adalah laki-laki. Cuma ada beberapa perempuan (yang sedikit berjakun).

Gue bukanlah ahli dalam menyanyi. Kalau boleh jujur, gue jarang banget bernyanyi meski itu di kamar mandi. Kan banyak ya, orang yang suka nyanyi di kamar mandi. Kalau gue sih engga, soalnya takut keselek sabun.

Pengalaman nyanyi gue cuman waktu ujian praktek seni budaya di SMP dulu. Disuruh nyanyi lagu mars sekolah. Mana lagunya gak familiar dan nadanya belok belok. Jadilah setelah nyanyi gue dikasih komentar sama gurunya.

“Kamu kalau nyanyi, coba mulutnya digerakin. Suara kamu kayak suara kentut ditahan.”

Komentar itu sangat mengena di hati gue. Mulai saat itu gue kalau kentut gak pernah ditahan. (Salah ambil makna).

Gue bersyukur di MOS ini ada acara latihan menyanyi, gue jadi sedikit banyak tahu bagaimana cara menyanyi yang benar.

“Bernyanyi itu menggunakan nafas perut ya.” Kata seorang panitia kesenian di ruangan bass.
 
Gue tadinya mau nanya.

“Bukannya manusia nafas pakai paru-paru ya kak?” 

Tapi gue urungkan karena gak mau cari keributan di ruang kesenian yang damai ini.

Gue menyebut begitu, karena momen berlatih nyanyi bagaikan momen dimana narapidana diberi amnesti atau betul-betul keluar dari penjara. Yang dalam hal ini penjaranya adalah “ruang penyiksaan” yang didalamnya terdapat lima orang panitia acara yang kalau bicara selalu dengan nada tinggi. Padahal kalau terlalu tinggi kan nanti bisa jatuh.

Ekspresi wajah prasa-prasi ketika mendengar Co. panitia acara bilang.

“Silahkan semua berbaris rapi, menuju ruang latihan paduan suara”

Seperti baru saja diberikan sebuah hadiah yang amat luar biasa. Mendung yang menyelimuti wajahnya langsung sirna tergantikan cerah yang berbinar. 

Bernyanyi ternyata memakai nafas perut. Agar nafas kita panjang dan suara yang dihasilkan bulat.

Nah ini yang awalnya gue belum tahu. Pada uji coba bernyanyi pertama. Kelompok suara bass masih kurang bulat suaranya kata kakak panitia. Maksudnya kurang bulat adalah ketika suara yang dihasilkan terlalu cempreng dan kurang nge-bass. Gimana ya jelasinnya, pokoknya bulat gitu, kayak penyanyi seriosa. Kalau suaranya gak bulat namanya penyanyi bercandasa (ngasal).

Hari keempat, hari ini gue sudah sedikit terbiasa dalam bernyanyi sesuai kaidah yang benar. Suara gue udah mendingan, gak seperti kentut yang ditahan lagi, tapi lebih ke kentut yang keluar lepas.

Begitu pun teman-teman sekelompok gue di suara bass. Rata-rata suaranya sudah lumayan mantap. Kecuali beberapa orang yang perlu bimbingan khusus dalam menentukan nada bass yang benar.

“Hari ini kita latihan bersama empat suara di ruang bawah ya.” Kata kakak panitia kesenian di bagian suara bass.

Ini berarti kelompok suara bass, tenor, sopran, dan alto akan berkumpul di suatu ruangan. Lalu akan bernyanyi lagu hymne analis secara bersama dengan pembagian empat suara. Apabila berhasil, maka akan dihasilkan harmoni suara yang luar biasa bikin merinding.

Maka turunlah gue dan kelompok bass lainnya beserta kaka panitia juga ke ruangan besar di lantai bawah.

Dari ruangan lain datang juga kelompok-kelompok suara yang lain, seperti alto, tenor, dan sopran.

Sampailah gue dan prasa-prasi lainnya di sebuah ruangan yang cukup besar. Ukurannya mirip "ruan penyiksaan" yaitu ukuran dua kelas yang dijadikan satu. Jendela-jendela kacanya pun sama ditutup dengan koran. Entah mengapa, apa mungkin ini salah satu desain terbaru dari sebuah jendela, jadi jendela bisa menjadi tempat membaca juga.

Saat pertama kali gue masuk ke ruangan itu, di dalamnya sudah ada beberapa orang panitia kesenian. Ketika semua kelompok suara sudah berada di dalam. Ruangan ini berubah menjadi sangat panas. Tentu ini karena ruangan itu tidak disertai kipas dan ventilasi udara yang kecil. Ditambah lagi, banyaknya orang, membuat kita sama-sama berebut oksigen. 

Dimulailah latihan bersama. Dirijen mengayunkan tangannya tanda bernyanyi akan dimulai. Lalui setiap kelompok bernyanyi dengan nadanya masing-masing.

Berulang kali nyanyian dihentikan karena ada beberapa prasa-prasi yang terbawa nadanya. Maksudnya nadanya jadi ikutan kelompok lain dan tidak sesuai dengan suara kelompoknya, karena barisannya sebelahan, terkecoh nada adalah hal yang lumrah bagi orang yang baru belajar nyanyi paduan suara.

“Ayo, jangan sampai lupa nadanya, inget loh ini H-1, besok kalian tampil di depan orang tua kalian. Ayo bikin mereka bangga.” Kata kakak Co. kesenian sambil berdiri di depan bersama dirijen angkatan. 

Kita semua bersorak kompak bilang "iya."

Ini karena kita semua pastinya ingin mempersembahkan nyanyian terbaik di depan orang tua pada acara pelantikan besok. Dan kalau boleh gue pengen guru kesenian SMP gue dateng. Gue mau buktiin suara gue udah gak kayak kentut ditahan. Tapi kayak kentut keluar air.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Garing kan? Yuk, kata - katain si penjual krispi biar dia males nulis garing lagi. Silahkan isi di kolom komentar.

Penikmat Crispy

Pemakan Crispy

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...