29 Mar 2018

Setelah Setahun Tidak Menulis di Blog

Sudah hari kedelepan sejak pertama kali gue menulis lagi di blog ini. Ini bukanlah niat gue secara tulus tapi karena ada pompaan semangat yang disebut tantangan menulis 30 hari atau dalam hal ini namanya #30DWC (30 Days Writing Challenge).

Program ini gue ketahui dari rekan kerja gue. Namanya Pak Hasan. Waktu itu gue dan Pak Hasan sedang bersiap-siap menuju acara gathering perusahaan tempat kami bekerja. Acara itu diselenggarakan di jogja. Sambil menunggu taksi online untuk menuju bandara, gue melihat Pak Hasan sedang mengetik di laptopnya. Tampaknya sedang serius sekali. Dan melihat itu, gue jadi inget blog gue yang….. setahun gak gue tulis apa-apa. Kalau blog gue bisa nyanyi, pasti dia nyanyi lagu bang toyib. Kenapa gak nulis-nulis.

Karena gue penasaran apa yang sedang ditulis Pak Hasan. Gue akhirnya bertanya.

“Nulis blog pak?” 

“Iya nih. Lagi ikutan tantangan menulis tiga puluh hari saya.”

Mendengar itu, gue makin penasaran.

“Oh ya? Gimana ikutnya itu pak?”

“Ada di instagram. Ini akunnya.”

Lalu Pak Hasan menunjukan layar smartphone-nya yang menampilkan akun 30DWC.

“Wah, jadi nanti tiap hari tulisannya ditentukan temanya pak?”

“Ada, tapi nanti di minggu terakhir. Awal-awal mah bebas.”

Gue mengangguk tanda mengerti. 

Tahu akan info tentang adanya tantangan tiga puluh hari menulis ini, gue jadi teringat dulu juga pernah ikut tantangan menulis tiap hari yang diadakan komunitas blogger. Tapi itu sudah lama sekali. Komunitas bloggernya pun entah apa kabarnya sekarang.

Tapi sepertinya tantangan ini berbeda. Setelah kepo membaca informasi di akun instagram 30DWC gue jadi tahu kalau tantangan ini bukan hanya sekedar tantangan menulis lalu tanpa pengawasan, seperti tantangan yang sebelumnya gue ikuti.  

“Pak ini kalau misalnya sehari gak nulis di Drop Out?” 

“Enggak, maksimal tiga hari. Tapi juga tetep harus bayar utang tulisan.”

“Oh gitu.” Kata gue singkat tanda mengerti.

Mulai dari situ, gue mulai follow akun instagram 30DWC dan menunggu kapan dimulai lagi tantangannya. Dan sekitar sepuluh hari lalu lah gue tahu kalau tantangan jilid 12 telah dimulai.

Akhirnya gue daftar, dan mulai menulis lagi sejak sekian lama tidak menulis. Tadinya sudah lumayan luwes dalam memilih kata dalam tulisan. Sekarang jadi agak kaku. Benar kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan. Eh salah, maksudnya bisa karena biasa.

Sudah dua hari ini kerjaan kantor dan tugas kuliah gue menyibukan sekali. Akhirnya gue hanya bisa menulis dengan seadanya tanpa koreksi lagi. Gue juga jadi jarang mengecek grup “Empire 30DWC” maupun grup “Squad” gue. Oleh karena itu, gue jadi ketinggalan info kalau kemarin dan hari ini ada feedback empire.

Sebelumnya gue sudah pernah mendapatkan feedback, tapi dari grup “Fiksi 30DWC” disana tulisan hari pertama, kedua, dan ketiga gue dikomentari oleh Kak Rizka. Katanya penulisan gue termasuk gaya menulis yang ringan. Yang kurang dari penulisan cerita gue adalah penokohan.
Ya gue juga merasakan hal itu. Menguatkan penokohan tentu perlu beberapa adegan atau narasi yang lebih dalam menceritakan suatu tokoh. Tokoh utama maupun tokoh sampingan. Disitulah karena gue setelah menulis langsung di post tanpa koreksi lagi. Jadilah cerita yang penokohannya masih mentah. Tokoh utama cerita gue masih belum jelas apa tujuannya. Begitu juga tentang watak tokoh-tokoh yang di sekitar tokoh utama. Gue hanya nyebutin nama, penampakannya, udah. Itu sangat kurang sekali sih. Feedback dari grup ini sangat menolong gue.

Lalu hari ini dan kemarin ada “Feedback Empire”. Itu adalah ketika tulisan kita hari sebelumnya (dalam hal ini hari ke 6) dikomentari oleh seluruh anggota empire. Pembagian komentarnya per-Squad. 

Karena gak ngecek grup dari semalam. Jadilah tadi pagi gue baru ngecek dan, banyak mention nama gue. “Wah ada apa ini, kok pada mention, perasaan gue gak punya utang. (kirain ditagih utang)".
 
Ternyata mention-mention di grup Whatsapp itu adalah feedback dari anggota lain tentang tulisan gue. Feedbacknya pun beragam.

Ada yang suka dengan penulisan gue. Ada yang nangkep jokes krispi gue. Tapi juga ada yang bilang jokes gue gak jelas dan gak bisa dimengerti. Ya, emang iya sih. Gue juga suka gak ngerti sama lawakan gue (ketawa jahat).

Yang dikomentari adalah tulisan hari keenam gue. Yang mana tulisan ini gue rasa adalah tulisan yang paling kurang diantara tulisan lainnya. Gue masih inget tulisan ini gue tulis saat di kantor, diantara selingan pekerjaan. Hasilnya tulisan gue lebih mentah dari sebelumnya. Cerpen yang harusnya konkrit malah jadi seperti orang bercerita langsung tanpa penggambaran yang lengkap.
Sungguh feedback yang gue terima tadi pagi sangat syahdu. Setelah membaca feedback dari anggota 30DWC lainnya gue langsung.

“Ah iya bener.”

Dan dari feedback-feedback itu gue merasa sangat perlu belajar, menulis, dan memperkaya bacaan lagi.

Secara garis besar feedbacknya adalah mengenai kesalahan aturan penulisan, jokes kurang dimengerti, istilah-istilah dalam cerita yang belum dijelaskan pada paragraf sebelumnya, pemilihan diksi yang kurang tepat, ending yang tidak jelas, penokohan yang kurang, dan yang parah ada yang baca berulang kali gak nangkep maksud ceritanya.

Tapi syukurlah gak ada yang komentar.

“Ini yang nulis mukanya sebelah mana ya? Kok rambut semua?”

Syukurlah tidak ada.
 
Hari ini hari ke delapan. Postingan ini adalah tulisan yang akan gue post sebagai tulisan hari ke delapan gue. 

Mau tau kenapa?

Hari ini gue gak sempet lanjutin cerita “Bukan Kisah Putih Abu”, jadi ya, nulis curhat gini aja deh. 
 
Salam Krispi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Garing kan? Yuk, kata - katain si penjual krispi biar dia males nulis garing lagi. Silahkan isi di kolom komentar.

Penikmat Crispy

Pemakan Crispy

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...